Pupuk NASA untuk kelapa sawit

Merupakan bukti jika pupuk NASA cocok untuk meningkatkan produktifitas kelapa sawit.

Silahkan dibuktikan…

Ditunggu chatnya…WA/TELEGRAM_085702277528

#pupuknasa #nasauntuksawit #teknologinasa #pupukorganik #budidayasawit

Advertisements

STRATEGI PENINGKATAN SERAPAN HARA

Anggaran biaya yang dialokasikan untuk  kegiatan pemupukan maupun pembelian material pupuk merupakan  anggaran yang paling besar menghabiskan anggaran operasional untuk tanaman. 60%-70 % anggaran kebun digunakan untuk kegiatan ini. Pertanyaan yang paling mendasar dan penting untuk kita jawab adalah, berapa banyak material pupuk tersebut yang tidak dapat diserap oleh tanaman, dengan kata lain hilang percuma dan tidak dapat diserap oleh tanaman akibat kondisi fisik dan kimia tanah perkebunan yang semakin buruk.

Bertambahnya dosis pemupukan setiap tahun, sesungguhnya bukan hanya dipengaruhi oleh faktor bertambahnya usia tanaman, tetapi juga disebabkan oleh terjadinya inefisiensi serapan hara oleh tanaman,dan hal ini belum dilakukan penelitian secara khusus dan belum ada data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan penghematan dalam kegiatan pemupukan.

Sebagai sebuah ilustrasi,jika saja terjadi peningkatan efisiensi serapan dapat menekan penggunaan bahan material pupuk sebesar 20 % saja pertahun berarti untuk 1 estate seluas 10.000 Ha akan di peroleh penghematan sebesar  + 14 milyar pertahun (asumsi biaya pupuk 7 juta per/ha/tahun). Dengan demikian, Persepsi yang harus dikembangkan saat ini adalah penghematan biaya pupuk perlu dilakukan secara sistematis dan terorganisir dengan baik dan melibatkan seluruh level, ulai dari level karyawan pekerja, hingga level pengambil keputusan .

Pada tulisan ini akan dibahas mengenai dasar-dasar ilmu kesuburan tanaman sebagai acuan dalam memahami karakteristik tanaman yang berkaitan erat dengan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara yang dibutuhkan bagi tanaman, dan dalam tulisan ini juga menguraikan faktor-faktor utama yang bersifat alami yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia maupun faktor alami yang bisa dikendalikan oleh manusia yang berhubungan erat dengan penyerapan unsur hara oleh tanaman. Dalam tulisan ini juga akan membahas tentang strategi dan teknik untuk meningkatkan serapan hara oleh  tanaman.

Definisi Pertumbuhan Tanaman

Pertumbuhan tanaman adalah suatu proses perubahan yang sangat kompleks yang dipengaruhi faktor internal maupun faktor eksternal. Secara sederhana pertumbuhan tanaman dapat didefinisikan sebagai suatu proses vital  yang menyebabkan perubahan baik meliputi perubahan ukuran, bentuk, berat dan volume. Pertumbuhan tanaman setidaknya terdiri atas beberapa fase,diantaranya yaitu (1) Fase pembentukan sel, (2) Fase perpanjangan dan pembesaran sel,(3) Fase diferensial sel. Semua fase dan proses pertumbuhan tanaman dipengaruhi atau ditentukan oleh faktor-faktor pertumbuhan.
Faktor-Faktor Pertumbuhan Tanaman

Faktor genetis

Faktor genetis merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan maupun pertumbuhan tanaman. Sifat-sifat unggul maupun sifat sebaliknya  umumnya diturunkan dari generasi sebelumnya, namun sifat-sifat unggul akan terganggu atau tidak muncul jika ada faktor eksternal yang dominan sehingga mempengaruhi kondisi perkembangan tanaman, misalnya faktor ketersedian air atau suhu ekstrim.

Ketersediaan Air

Air merupakan syarat utama terjadinya  metabolisme pada kegiatan seluruh makhluk hidup, Ketidaktersediaan air akan direspon oleh tanaman dengan secara visual, yaitu warna daun akan menguning dan pada sebagian tanaman tahunan akan merespon dengan cara menggugurkan daun untuk bertahan hidup, proses pembentukkan daun,bunga,tunas maupun buah akan terganggu jika tanaman mengalami kekurangan air.
Ketersediaan Unsur Hara

Ketersediaan unsur hara/makanan yang dibutuhkan oleh tanaman juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan maupun pertumbuhan tanaman. Ketersediaan hara tidak hanya meliputi jumlah saja ,namun juga meliputi komposisi unsur hara yang tersedia didalam tanah maupun unsur hara yang berasal dari luar yaitu berupa pemberian pupuk hara makro maupun mikro.

Cahaya Matahari

Cahaya matahari memegang peranan yang vital untuk kelangsungan fisiologis tanaman, terutama fotosintesis,respirasi dan transpirasi tanaman. Keberlangsungan fotosintesis berkorelasi positif dengan keberadaan stomata. Jika intensitas cahaya meningkat,jumlah stomatapun cenderung meningkat, tetapi peningkatan tertsebut lebih dikarenakan semakin kecilnya ukuran sel-sel epidermis sehingga jarak antar stomata menjadi lebih dekat. 

Hormon Pertumbuhan

Hormon pertumbuhan merupakan senyawa-senyawa dalam jumlah yang kecil yang turut mengatur proses pertumbuhan. Umumnya hormon pertumbuhan yang dikenal saat ini adalah Hormon Auxin, Hormon Giberelin dan Hormon Sitokinin. Hormon Auxin berfungsi mematahkan dormansi biji dan merangsang proses perkecambahan biji, dan juga merangsang dan mempertinggi prosentase timbulnya buanga dan buah. Hormon giberelin merangsang pertumbuhan tanaman,sehingga tanaman terhindar dari kerdil, hormon giberelin juga memacu proses  perkecambahan biji, salah satu efek hormon giberelin adalah mendorong terjadinya sintesis enzim dalam biji seperti amilase, protease dan lipase, dimana enzim tersebut akan merombak dinding sel endosperm biji dan menghidrolisis pati dan protein yang akan memberikan energi bagi perkembangan embrio diantaranya adalah radicula (akar) yang akan mendobrak endosperm,kulit biji atau kulit buah yang membatasi pertumbuhan/perkecambahan biji sehingga biji berkecambah.

Oksigen

Oksigen dibutuhkan untuk proses respirasi tanaman guna menghasilkan energi untuk proses pertumbuhan tanaman.

Suhu Udara

Suhu udara merupakan faktor lingkungan yang cukup mempengaruhi fisiologis tanaman. Suhu udara akan mempengaruhi kandungan air pada tubuh tanaman. Secara umum kisaran suhu untuk dapat terjadinya proses pertumbuhan antara 40C hingga 450C dan suhu optimumnya antara 28 0C hingga 33 0C.

Starategi Meningkatkan Efisiensi Serapan Hara Tanaman

Konsisten terhadap jadwal aplikasi pemupukan, dengan tetap berdasarkan 4T, tepat dosis,tepat cara , tepat waktu, tepat Jenis.
Hasil Analisa tanah dan analisa daun, harus dijadikan acuan dan rekomendasi dalam menentukan dosis kebutuhan setiap tanaman 

Pengunaan pupuk yang berimbang harus dilakukan,  yaitu antara pemberian pupuk Makro, Mikro serta pemberian hormon juga tetap diberikan,guna memenuhi ketersedian hara yang dibutuhkan oleh tanaman.

Pengurangan penggunaan pupuk makro (kimia) antara 25 % hingga 50% secara bertahap perlu dilakukan dan selanjutnya penggunaan pupuk organik menjadi langkah alternatif solusi dan dibeberapa hasil uji coba dilapangan menunjukan hasil yang signifikan bahwa penggunaan pupuk oraganik dan pengurangan pupuk makro dapat meningkatkan hasil produksi dan bahkan bisa mencapai potensial produksi.

Berdasarkan pertimbangan ketersediaan tenaga kerja dan ketersediaan pupuk tunggal yang  tidak selalu tersedia, maka sebaiknya penggunaan pupuk majemuk menjadi alternatif dengan diikuti penggunaan pupuk organik yang mengandung unsur hara mikro dan hormon pertumbuhan.

Penggunaan Pupuk Organik Nasa, Pupuk Supernasa Granule dengan dosis 50 Kg/Ha atau setara dengan 350 gram/pohon dan Pupuk Power Nutrition dengan dosis 3 Kg/Ha atau setara dengan 25 gram/pohon. Pemberian pupuk organik Nasa minimal diberikan 2 kali dalam setahun. Cara aplikasi yang terbaik adalah dengan dibenamkan ke tanah, dengan cara membuat minimal 4  lubang di sekitar 3-4 meter dari batang tanaman sawit, namun jika tidak memungkinkan dapat juga ditabur seperti biasa yang sering dilakukan.

Pemberian Dolomit dengan dosis 2 Kg/pohon diberikan sebaiknya 3 atau 4 pekan sebelum aplikasi pupuk anorganik maupun pupuk organik Nasa , adapun  diaplikasikan dolomit sebaiknya dilakukan  2 kali dalam setahun.

Ingin menggunakan pupuk nasa? #konsultasi_WA_TELEGRAM_085702277528

#nasa_agro_techno_2017 #hemat_biaya #pupukorganik #pupuknasa #jualpupuknasa #hargapupuknasa

HORMONIK, Hormon Organik

Ada tiga hormon yang mutlak dibutuhkan oleh tanaman dalam proses pertumbuhanya, yaitu: Auksin, Giberelin dan Sitokinin. Apabila tanaman kekurangan salah satu hormon tersebut maka pertumbuhanya akan terganggu. Tanaman bisa menjadi kerdil (pertumbuhan lambat), pertumbuhan akar kurang sempurna, umbi sedikit dan kecil, bunga dan buah mudah rontok. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi produksi tanaman itu sendiri. Untuk itu keberadaan hormon sangatlah penting. Sekarang telah bayak di pasaran hormon yang umumnya bersifat anorganik/kimia. Walau dirasakan manfaatnya tapi karena sifatnya yang sintetik/kimia tentu cenderung sukar terurai oleh alam, sehingga dalam pemakaian jangka panjang akan menimbulkan dampak negatif bagi tanaman maupun lingkunganya. Untuk menjawab tantangan itu, maka PT. Natural Nusantara mengeluarkan produk Hormon yang bersifat berbahan organik, dengan nama HORMONIK. Hormon yang terkandung dalam HORMONIK adalah:

  1. Auksin,

    hormon ini dalam tumbuhan sebagai indol 3-asetat (IAA)

    yang dihasilkan oleh jaringan muda yang sedang tumbuh. Fungsi hormon ini untuk perbesaran dan diferesiensi sel, peningkatan respirasi tanaman, merangsang sistem RNA, protein dan enzim. Auksin sangat berperan pada pembentukan jaringan pada masa vegetatif.

  2. Giberelin,

    hormom ini mendorong pertumbuhan/pemanjangan tubuh tanaman (akar dan batang), merangsang pembungaan, menormalkan pertumbuhan tanaman kerdil. Hormon ini bekerja secara saling membantu dengan hormon lain (sinergis) seperti hormon auksin. Dapat juga memacu pertumbuhan tanaman yang terhambat karena penyakit.

  3. Sitokinin,

    fungsi hormon ini untuk pembesaran dan diferesiensi sel, menghalangi ketuaan, mengarahkan aliran asam amino dan zat makanan ke seluruh tubuh bagian tanaman dengan konsentrasi sitokinin tinggi.

Secara umum, manfaat HORMONIK bagi tanaman untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, akar, memperbanyak dan memperbear umbi, mengurangi kerontokan bunga dan buah serta memperbanyak dan memperbesar buah. Dibanding hormon kimia, HORMONIK mempunyai kisaran dosis lebih lebar, sehingga jika kelebihan tidak membahayakan tanaman, mudah terurai oleh alam dan aman bagi manusia dan lingkungan. Catatan: HORMONIK akan lebih efektif jika pemakaianya dicampur dengan POC NASA kurang lebih 1 tutup HARMONIK dan kurang lebih 4 tutup NASA per tangki.

Pupuk Organik Padat SUPERNASA

image

SUPERNASA merupakan pengembangan dari Pupuk Organik Cair NASA. Formula khusus murni bahan-bahan organik untuk pupuk dasar/penyiraman tanaman. Fungsi utama:

  1. Ditunjukan terutama untuk mengurangi penggunaan pupuk NPK (50% dari dosis rekomendasi setempat) sehingga terjadi keseimbangan antara penggunaan pupuk kimia dan organik.
  2. Ditunjukan untuk memperbaiki lahan-lahan yang rusak, karena SUPERNASA memiliki kandungan Humat dan Fulvat yang berangsur-angsur akan memperbaiki konsistensi (kegemburan) tanah yangkeras membantu perkembangan mikroorganisme tanah yang bermanfaat bagi tanaman seperti cacing, mikroba alami setempat, dll.
  3. Dapat digunakan untuk semua jenis tanaman pangan (pad, palawija, dll), horti (sayuran, buah, bunga) dan tahunan (coklat, kelapa sawit, dll) SUPER NASA mengandung lengkap unsur hara/nutrisi makro dan mikro bagi tanaman.
  4. Kandungan Hormon/Zat Pengatur Tumbuh (auksin, Giberelin dan Sitokinin) akan mempercepat perkecambahan biji, pertumbuhan akar, fase vegetatif/pertumbuhan tanaman serta memperbanyak dan mengurangi kerontokan bunga dan buah.
  5. Memacu perbanyakan senyawa polyfenol
    untuk meningkatkan daya taham tanaman terhadap serangan penyakit.
  6. Dapat melarutkan SP-36 dengan cepat.

#WA/TELEGRAM_085702277528

Natural Glio solusi jamur akar


Natural GLIO Solusi JAP (Jamur Akar Putih) Sawit , Karet , jamur BPB dan semua penyakit jamur dari bawaan tanah.

Natural GLIO telah lulus uji mutu bahan dan uji efektivitas

Natural GLIO bersertifikat resmi dari Komisi Pestisida Nasional

Natural GLIO praktis penggunaa  dan aman bagi lingkungan hidup

#naturalglio #glio #jap #jamurakarputih #sawit #karet #ptnasa #ptnaturalnusantara

#Konsultasi_085702277528

#NasaAgroTechno2017

Dibutuhkan agen dan distributor

#Dibutuhkan :
Mitra / Agen / Distributor Resmi Pupuk Organik PT.Natural Nusantara (NASA)
untuk jalur distribusi ke setiap daerah.

image

image

image

Pupuk Organik untuk segala jenis budidaya tanaman pertanian, perkebunan, perikanan & peternakan.

Ada order minimal untuk Free / Gratis ongkir ke seluruh wilayah.

– Jawa order minimal 2jt.
– Luar Jawa order minimal 2,5jt.
( Hanya khusus harga distributor )
( Bonus  komplit, mulai dari brosur,buku2 panduan & CD utk pengetahuan + teknis  budidaya pertanian, perkebunan, peternakan )

Support konsultasi free selamanya & harus siap di bimbing sampai berhasil.

Fast respond Info bisa Hubungi kami via inbox.
#Tlf_Sms_WA_Telegram_085702277528

Cara budidaya cabai merah dengan teknologi NASA

image

A. PENDAHULUAN

Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan hama dan penyakit, dll. PT. Natural Nusantara ( NASA ) berupaya membantu penyelesaian masalah tersebut, agar terjadi peningkatan produksi cabai secara kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K-3 ), sehingga petani dapat berkompetisi di era pasar bebas.

B. FASE PRATANAM

1. Pengolahan Lahan

~Tebarkan pupuk kandang dosis 0,5 -1 ton/ 1000 m2

~Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)

~Diberi Dolomit sebanyak 0,25 ton / 1000 m2

~Dibuat bedengan lebar 100 cm dan parit selebar 80 cm

~Siramkan SUPER NASA (1 bt) / NASA(1-2 bt) – Super Nasa : 1 btl dilarutkan dalam 3 liter air (jadi larutan induk). Setiap 50 lt air tambahkan 200 cc larutan induk. Atau 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 1 sendok makan peres SUPER NASA dan siramkan ke bedengan + 5-10 m. – NASA : 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 2-4 tutup NASA dan siramkan ke bedengan sepanjang + 5 – 10 meter.

~ Campurkan GLIO 100 – 200 gr ( 1 – 2 bungkus ) dengan 50 – 100 kg pupuk kandang, biarkan 1 minggu dan sebarkan ke bedengan.

~Bedengan ditutup mulsa plastik dan dilubangi, jarak tanam 60 cm x 70 cm pola zig zag ( biarkan + 1 – 2 minggu ).

2. Benih

~Kebutuhan per 1000 m2 1 – 1,25 sachet Natural CK -10 atau CK-11 dan Natural CS-20, CB-30

~Biji direndam dengan POC NASA dosis 0,5 – 1 tutup / liter air hangat kemudian diperam semalam.

C. FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)

1. Persiapan Persemaian

~Arah persemaian menghadap ke timur dengan naungan atap plastik atau rumbia. ~Media tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dengan GLIO 100 gr dalam 25-50 kg pupuk kandang dan didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm atau contong daun pisang.

2. Penyemaian

~Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk kandang matang yang telah disaring ~Semprot POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10, 17 HSS

~Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban

3. Pengamatan Hama & Penyakit

a.Penyakit

~Rebah semai (dumping off), gejalanya tanaman terkulai karena batang busuk , disebabkan oleh cendawan Phytium sp. & Rhizoctonia sp. Cara pengendalian: tanaman yg terserang dibuang bersama dengan tanah, mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman, jika serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan ( 10 gr) per 10 liter air. ~Embun bulu, ditandai adanya bercak klorosis dengan permukaan berbulu pada daun atau kotil yg disebabkan cendawan Peronospora parasitica. Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai.

~Kelompok Virus, gejalanya pertumbuhan bibit terhambat dan warna daun mosaik atau pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dari 2 minggu. Cara mengatasi; bibit terserang dicabut dan dibakar, semprot vektor virus dengan BVR atau PESTONA.

b. H a m a

~Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Perhatikan permukaan daun bagian bawah atau lipatan pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi di bawah daun. Pijit dengan jari koloni kutu yg ditemukan, semprot dengan BVR atau PESTONA.

~Hama Thrip parvispinus, gejala serangan daun berkerut dan bercak klorosis karena cairan daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan atau seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran di bawah daun. Pengamatan pada pagi atau sore hari karena hama akan keluar pada waktu teduh. Serangan parah semprot dengan BVR atau PESTONA untuk mengurangi penyebaran.

~Hama Tungau (Polyphagotarsonemus latus). Gejala serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal dan berguguran sehingga tinggal batang dan cabang. Perhatikan daun muda, bila menggulung dan mengeras itu tandanya terserang tungau. Cara mengatasi seperti pada Aphis dan Thrip

D. FASE TANAM

1. Pemilihan Bibit

~Pilih bibit seragam, sehat, kuat dan tumbuh mulus

~Bibit memiliki 5-6 helai daun (umur 21 – 30 hari)

2. Cara Tanam

~Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda.

~Plastik polibag dilepas

~Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram /disemprot POC NASA 3-4 tutup/ tangki.

3. Pengamatan Hama

~Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon ), aktif malam hari untuk kopulasi, makan dan bertelur. Ulat makan tanaman muda dengan jalan memotong batang atau tangkai daun. Siang hari sembunyi dalam tanah disekitar tanaman terserang. Setiap ulat yang ditemukan dikumpulkan lalu dibunuh, serangan berat semprot dengan PESTONA atau VIREXI

~Ulat Grayak ( Spodoptera litura & S. exigua ), Ciri ulat yang baru menetas / masih kecil berwarna hijau dengan bintik hitam di kedua sisi dari perut/badan ulat, terdapat bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun dan daging buah dengan kerusakan berupa bintil-bintil atau lubang-lubang besar. Serangan parah, daun cabai gundul sehingga tinggal ranting-rantingnya saja. Telur dikumpulkan lalu dimusnahkan, menyiangi rumput di sekitar tanaman yang digunakan untuk persembunyian. Semprot dengan VITURA, VIREXI atau PESTONA. ~Bekicot/siput. Memakan tanaman, terutama menyerang malam hari. Dicari di sekitar pertanaman ( kadang di bawah mulsa) dan buang ke luar areal.

E. FASE PENGELOLAAN TANAMAN (7-70 HST)

1. Penyiraman dapat dilakukan dengan pengocoran tiap tanaman atau penggenangan (dilep) jika dirasa kering.

2. Pemupukan lewat pengocoran dilakukan seminggu sekali tiap lubang. Pupuk kocoran merupakan perbandingan campuran pupuk makro Urea : SP 36 : KCl : NASA = (250 : 250 : 250) gr dalam 50 liter ( 1 tong kecil) larutan. Diberikan umur 1 – 4 minggu dosis 250 cc/lubang, sedang umur 5-12 minggu dengan perbandingan pupuk makro Urea : TSP : KCl : NASA = (500 : 250 : 250) gr dalam 50 liter air, dengan dosis 500 cc/lubang. Kebutuhan total pupuk makro 1000 m2 : Jenis Pupuk 1 – 4 minggu ( kg ) 5 – 12 minggu ( kg ) Urea 7 56 SP-36 7 28 KCl 7 28 Catatan : – Umur 1 – 4 mg 4 kali aplikasi (7 tong/ aplikasi) – Umur 5-12 mg 8 kali aplikasi ( 14 tong/aplikasi)

3. Penyemprotan POC NASA ke tanaman dengan dosis 3-5 tutup / tangki pada umur 10, 20, kemudian pada umur 30, 40 dan 50 HST POC NASA + Hormonik dosis 1-2 tutup/tangki.

4. Perempelan, sisakan 2-3 cabang utama / produksi mulai umur 15 – 30 hr.

5. Pengamatan Hama dan Penyakit ~Spodoptera litura/ Ulat grayak Lihat depan.

~Kutu – kutuan ( Aphis, Thrips, Tungau ), lihat fase persemaian.

~Penyakit Layu, disebabkan beberapa jamur antara lain Fusarium, Phytium dan Rhizoctonia. Gejala serangan tanaman layu secara tiba-tiba, mengering dan gugur daun. Tanaman layu dimusnahkan dan untuk mengurangi penyebaran, sebarkan GLIO ~Penyakit Bercak Daun, Cercospora capsici. Jamur ini menyerang pada musim hujan diawali pada daun tua bagian bawah. Gejala serangan berupa bercak dalam berbagai ukuran dengan bagian tengah berwarna abu-abu atau putih, kadang bagian tengah ini sobek atau berlubang. Daun menguning sebelum waktunya dan gugur, tinggal buah dan ranting saja. Akibatnya buah menjadi rusak karena terbakar sinar matahari. Pengamatan pada daun tua.

~Lalat Buah (Dacus dorsalis), Gejala serangan buah yang telah berisi belatung akan menjadi keropos karena isinya dimakan, buah sering gugur muda atau berubah bentuknya. Lubang buah memungkinkan bakteri pembusuk mudah masuk sehingga buah busuk basah. Sebagai vektor Antraknose. Pengamatan ditujukan pada buah cabai busuk, kumpulkan dan musnahkan. Lalat buah dipantau dengan perangkap berbahan aktif Metil Eugenol 40 buah / ha

~Penyakit Busuk Buah Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides), gejala serangan mula-mula bercak atau totol-totol pada buah yang membusuk melebar dan berkembang menjadi warna orange, abu-abu atau hitam. Bagian tengah bercak terlihat garis-garis melingkar penuh titik spora berwarna hitam. Serangan berat menyebabkan seluruh bagian buah mengering. Pengamatan dilakukan pada buah merah dan hijau tua. Buah terserang dikumpulkan dan dimusnahkan pada waktu panen dipisahkan. Serangan berat sebari dengan GLIO di bawah tanaman.

F. FASE PANEN DAN PASCA PANEN

1. Pemanenan

~Panen pertama sekitar umur 60-75 hari ~Panen kedua dan seterusnya 2-3 hari dengan jumlah panen bisa mencapai 30-40 kali atau lebih tergantung ketinggian tempat dan cara budidayanya

~Setelah pemetikan ke-3 disemprot dengan POC NASA + Hormonik dan dipupuk dengan perbandingan seperti diatas, dosis 500 cc/ph

2. Cara panen :

~Buah dipanen tidak terlalu tua (kemasakan 80-90%)

~Pemanenan yang baik pagi hari setelah embun kering

~Penyortiran dilakukan sejak di lahan ~Simpan ditempat yang teduh

3. Pengamatan Hama & Penyakit ~Kumpulkan dan musnahkan buah yang busuk / rusak.

Konsultas

#budidayacabai #pupuknasauntukcabai #obathamacabai #pupuknasaorganik #pupuk organik